MC segala event

Sebenarnya saya agak malas untuk menulis pengalaman MC yang satu ini, bukan karena saya have no idea, namun karena diantara banyaknya event MC yang saya bawakan, MC yang satu ini yang sebisa mungkin saya hindari. Yaitu MC diacara kedukaan. Maaf, bukan bermaksud menganggap remeh kegiatan ini, namun bagi saya MC untuk kegiatan ini tidaklah gampang. Salah satu keahlian yang harus kita miliki adalah penguasaan bahasa Arab atau ayat-ayat suci Al Qur’an atau Al Hadits yang kita sampaikan untuk menambah ‘greget‘nya opening atau clossing saat kita ngeMC.

Yah, dua hari ini – yaitu kemarin dan hari ini saya kebagian tugas ngeMC kedukaan yang saya harus terima. Yang pertama kemarin saya harus bertugas ngeMC hari ke-7 meninggalnya Tante saya. The only one yang diharapkan (baca: diminta) untuk ngeMC adalah saya. Dan saya dengan menyetujui permintaan tersebut atas dasar kekeluargaan. Hari ini, tepatnya sore tadi saya ngeMC juga untuk kegiatan yang sama, namun kali ini di acara Peringatan hari ke-7 dari orang tua rekan sejawat saya di kampus.

Kedua event ini, diawal saya sudah mencoba untuk menanyakan kalau ada yang sudah bersedia atau bisa, maka saya merelakan ‘posisi’ saya digantikan, namun sampai saatnya tiba tidak ada yang bisa dan saya yang harus melaksanakannya juga. Sebenarnya alasan saya untuk berat menerima ‘tugas’ ini adalah disamping alasan yang saya sampaikan diawal tadi, masih ada lagi alasan lainnya, seperti pakaian, kemudian saya kurang merasa tidak lengkap kalau tidak mengucapkan ayat-ayat Al Qur’an. Nah pada saat saya ingin mengucapkannya pun, saya takut kurang fasih atau malah salah. Belum lagi karena kebiasaan membawakan acara-acara lainnya, saya malah takut salah dalam pengucapan. Berabe kan kalau misalnya saya salah mengucapkan seperti ‘hadirin para tamu undangan yang berbahagia… (kebiasaan untuk acara wedding), padahal harusnya ‘hadirin, jamaah ta’jiah (atau : perkabungan) rahimakumullah atau ‘yang dirahmati Allah’. Nah ini dia yang membuat saya engan bahkan berat menerima ini.

MC Pemakaman Prof. Mansoer Pateda (Foto: Awal)

Namun seingat saya, hanya sekali saya merasa ‘nyaman‘ MC kedukaan atau pemakaman. Yakni saat MC Pemakaman orang tua salah seorang teman saya yang juga Dosen diinstansi saya. Dikarenakan beliau adalah Guru Besar, maka prosesinya adalah prosesi

MC Pemakaman Prof. Mansoer Pateda (Foto : Awal)

Sidang Senat Istimewa. Dalam run down acara yang saya bacakan telah tersusun jelas dan saya tidak menggunakan kata-kata lainnya selain yang sudah tercatat. Malah saya merasa ini lah satu-satunya kegiatan MC Perkabungan yang saya bawakan yang tidak membuat saya harap-harap cemas.

 

Ternyata, saya harus banyak belajar lagi, ya terutama untuk bisa disebut MC segala event atau MC yang siap setiap saat. Artinya bahkan untuk acara seperti inipun saya harus mampu untuk membawakan acaranya dengan percaya diri yang maksimal. Semoga 🙂

Spontanitas (dalam ngeMC)

Menghitung jam terbang saya sebagai MC tentunya saya dah gak ingat lagi, karena kegiatan ini telah saya geluti semenjak masih di Yogyakarta, walaupun untuk kegiatan komunitas bahkan kegiatan kecil. Namun seiring dengan bertambahnya ‘jam terbang‘ banyak hal yang bisa saya gunakan untuk menambah kepercayaan diri terutama mengantisipasi hal yang tidak kita inginkan atau mencairkan suasana.

Dari beragam kegiatan yang saya lakoni untuk MC, MC Wedding yang nyaris berjalan lancar dan bisa dikatakan sukses. Namun beberapa acara selain Wedding MC, nampaknya saya agak sedikit extra startegi terutama kata-kata untuk mencairkan suasana atau membuat saya ‘menyiasati‘ kekeliruan yang terjadi.

Pengalaman pertama saya (yang ingin saya share di Blog ini) adalah saat kunjungan Fadel Muhammad (yang saat itu baru saja dilantik sebagai Mentri Kelautan dan Perikanan) dan berkunjung ke kampus UNG untuk menerima penghargaan sebagai Tokoh yang berperan dalam alih status kampus UNG. Saya yang semasa beliau menjabat Gubernur Gorontalo sering membawakan acara beliau baik di pemerintahan maupuan beberapa acara keluarganya, masih berbekas dalam penyebutan Fadel Muhammad (sebagai) Gubernur Gorontalo. Dan karena kesan itu masih ada, maka ‘kesalahan‘ yang spontan tidak saya duga keluar juga dari mulut saya.

More

Traveling dulu, baaaruu NgeMC : atau sebaliknya

Jalan-jalan bagi saya adalah menyenangkan. Jalan-jalan juga bagi saya adalah saat dimana saya melepaskan kepenatan dari rutinitas. Yah, barangkali hampir sama dengan beberapa orang tentang makna jalan-jalan. Adalah menjadi sesuatu yang membuat saya deg-degan apabila dalam kegiatan jalan-jalan saya harus bersiap untuk aktifitas saya lainnya. NgeMC misalnya.

Oya, MC atau Pewarta Acara atau Master of Ceremony adalah salah satu pekerjaan saya disamping pekerjaan utama saya sebagai praktisi pendidikan. Dan kegiatan ini yang (menurut saya) memberikan andil lebih untuk ‘mendukung‘ kegiatan saya untuk jalan-jalan. Paham kan maksud saya 🙂 . Nah, dalam beberapa kegiatan traveling saya, saya sering berhadapan dengan situasi harus ngeMC acara terutama Wedding Party. Menghadapi situasi seperti ini tidak ada yang saya lakukan selain berdoa untuk semua perjalanan saya selamat sampai Gorontalo tanpa delay yang berarti.

Bersama Petty saat ngeMC Wedding Party Funco dan Moni

More

Blog Archives

Just Click this


Yuk.Ngeblog.web.id
%d bloggers like this: