Suku Boti: Benteng Akhir Budaya di Pulau Timor

Hari Ketujuh dalam perjalanan ACI DetikCom, saya dan rekan saya mengunjungi Perkampungan Suku Boti, Salah satu Suku di Pulau Timor yang masih mempertahankan adat istiadat serta kehidupan tradisional mereka.

Saya dan rekan saya bersama Raja Boti

Pintu Gerbang Perkampungan Suku Boti

Siang itu dari Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan kami berjalan kearah selatan menuju pegunungan dimana perkampungan Suku Boti berada. Dari berbagai informasi yang kami dengar dari pemandu lokal tentang keberadaan dan adat istiadat Suku Boti, membuat rasa ketertarikan dan ketidaksabaran untuk segera tiba menganggu perasaan ini. Dalam perjalanan kami mampir kesalah satu pasar yang ada di pinggir jalan yang dilalui. Tujuan kami adalah membeli sirih dan pinang.

Sirih dan Pinang adalah perangkat upacara yang biasa digunakan disini, dan kita nantinya akan pamitan secara adat ke Raja Suku Boti’, demikian informasi dari Bapak Messakh Toy, pemandu lokal kami. Kamipun segera diajarkan bagaimana ucapan-ucapan yang akan disampaikan nanti, semuanya dalam bahasa daerah.

Senja dengan matahari yang mulai terbenam menghiasi perjalanan kami menuju perkampungan suku Boti, sekitar 2,5 jam perjalanan dengan cuaca yang sangat sejuk, mengingat perkampungannya berada di atas gunung. Sekitar pukul 17.30 kami tiba di perkampungan Suku Boti, keramahan telah nampak begitu kami akan memasuki pintu gerbang, sambutan keramahan dari penduduk telah menanti kami. Mata ini langsung tertuju pada tulisan yang terpampang di pintu gerbang perkampungan ‘Koenok Tem Ahoit Teu Pah Boti’ artinya Selamat Datang di Kampung Boti, Kampung Suku yang menjunjung tinggi budaya Timor’.

Kami disambut oleh dua orang warga Boti, Pemandu Lokal kami segera menyapa dengan bahasa daerah dan kami mengikuti untuk memberi salam. Mereka membantu kami membawakan barang bawaan dan berjalan memasuki perkampungan. Walaupun hari mulai gelap namun kami dapat menyaksikan perkampungan yang bersih dan tertata dengan rapi. Kami menuju ke rumah Raja terlebih dahulu untuk melaporkan kedatangan kami dengan upacara adat sederhana yang telah disiapkan.

Rumah Raja yang sederhana namun rapi, berbagai foto-foto terpampang di dinding Rumah Raja, baik didalam maupun diluar. Hal ini menandakan banyak pengunjung yang datang ke perkampungan ini. Sekitar 20 menit kami menunggu, Raja Boti yang biasa dipanggil Lunu Tuan akhirnya tiba juga. Seketika pemandu lokal mempersilahkan kami duduk disamping dia tepat di hadapan Raja.

Pemandu Lokal menyampaikan Pantun kepada Raja

Raja Boti menerima kami dengan Adat

Komunikasi berupa pantun adat diucapkan oleh pemandu lokal yang menjelaskan maksud kedatangan kami dan bermohon kesediaan Raja untuk menerima. Prosesi diawali dengan meletakan tempat sirih yang berisi pinang dua buah serta sirih dua buah di meja tepat di depan Raja Namah Benu, setelah terjadi pembicaraan maka Raja segera membalas ucapan dari pemandu lokal kami dan mengambil sirih, pinang serta uang yang berada di dalam tempat sirih didepannya.

Hal ini menandakan bahwa kedatangan kami diterima oleh Raja dan masyarakat Suku Boti. Setelah itu kami bersalaman dengan Raja dan beberapa masyarakat yang hadir di rumah Raja.
Setelah prosesi penyambutan, kami disuguhi minuman dan kue dan selanjutnya dipersilahkan menuju homestay yang telah disediakan.

Homestay kami

Saya dalam Kamar di Homestay

Saat itu malam telah menyelimuti perkampungan suku Boti, hanya cahaya bulan yang menyinari perjalanan kami menuju homestay yang berjarak 150 meter dari Rumah Raja. Homestaynya sederhana dengan 3 buah kamar dan satu ruang tamu dengan satu set kursi tamu.

Selanjutnya kami akan diundang untuk makan malam, tepat pukul 20.00 seorang Haef atau utusan mendatangi kediaman kami untuk mengundang kami makan malam di Rumah Raja. Keunikan yang kami jumpai adalah alat makan yaitu, piring, gelas dan sendok semuanya terbuat dari tempurung kelapa. Hal ini menambah sensasi tersendiri saat kami menikmati hidangan santap malam yang telah disediakan. Dan sebagai penghormatan bagi tamu, Raja dan orang-orang yang ada ditempat itu mempersilahkan kami makan terlebih dahulu sedangkan mereka akan makan setelah kami makan.

Teh dan Pisang Goreng

Sajian Makan Malam kami

Wadah makan kami

Kesederhanaan serta penghormatan yang nampak saat kami makan, remaja putri yang melayani kami makan duduk bersila dibawah meja makan, hal ini sebagai penanda bahwa mereka menghormati tamu yang sedang makan.
Setelah menikmati makan malam, kami lanjutkan berbincang-bincang dengan Raja serta beberapa masyarakat yang berada di Rumah Raja. Tepat pukul 21.00, kami pamit untuk beristirahat dan kembali ke Homestay kami.

Bangun pagi kami menjumpai Haef sudah berada di ruang tamu homestay kami, ternyata pagi itu dia mengundang kami untuk menikmati sarapan pagi di Rumah Raja. Bergegas kami mempersiapkan diri menuju rumah raja. Setelah sarapan pagi kami bersiap untuk aktifitas kami di perkampungan suku Boti. Hari itu kami melihat secara langsung pekerjaan anak-anak dan ibu-ibu Suku Boti dalam menggolah kapas menjadi benang dan selanjutnya menenun menjadi kain untuk dijual dan digunakan sehari-hari.

Kegiatan ini sudah merupakan kegiatan harian dari anak-anak dan ibu-ibu Suku Boti. Segala yang dari alam digunakan untuk proses pembuatan kain tradisional. Kapas yang dipintal biasanya dikerjakan oleh anak-anak berupa Beninis yaitu tahapan pemisahan biji kapas dari kapas, selanjutnya proses penghalusan kapas dilanjutkan dengan pembuatan rol-rol kapas. Proses selanjutnya adalah pengulungan menjadi benang, dan dilanjutkan dengan pemberian warna alami pada masing-masing benang, seperti warna merah dari buah mengkudu, kuning dari kunyit dan lain-lain.

Anak-anak Suku Boti sedang mengolah kapas menjadi Benang

Menenun

Selepas makan siang, kami mencoba mengitari perkampungan suku Boti. Hanya pemandangan rumah-rumah sederhana yang kami jumpai, penduduk jarang kami jumpai karena dari pagi hingga sore biasanya penduduk Boti berada di kebun, hanya beberapa anak yang kelihatan. Namun kamu tertarik dengan aktifitas mereka mengambil air yang dimasukan dalam bambu yang diletakkan ditas kepala. Kami mengikuti mereka untuk mengambil air, keadaan ini membuat kami merasakan keseharian mereka dalam mengambil air langsung dari disumber mata air. Kami menuruni beberapa bukit hingga tiba di Sumber mata air. Karena hal ini sudah merupakan kebiasaan mereka, maka tidaklah nampak kesulitan dari anak-anak ini naik turun bukit dengan beban yang meraka bawa. Hanya saja saya dan rekan saya agak berhati-hati karena bukit yang kami turuni bahkan daki begitu tinggi dan curam.

Mengambil Air

Mengambil Air

Mencoba untuk membawa tempat air (Foto: Tuti W)

Selepas makan malam kami direncanakan akan menyaksikan penampilan atraksi kesenian dari Suku Boti. Tepat Pukul 20.30 malam itu kami telah berada di bagian belakang rumah raja. Di Lopo samping rumah sudah duduk berjejer para Ibu dan Remaja Putri Suku Boti siap memainkan Tufu atau Gendang, Laban Ote atau Gamelan untuk mengiringi tarian. Dipingiran halaman duduk beberapa masyarakat dan Papa Raja yang duduk di dekat Lopo. Sebelum kami menyaksikan tarian dan persembahan Suku Boti, kami dikalungkan kain tenun khas oleh putri suku Boti.

Tari Swo Ma Eka

Penari Cilik

Atraksi tarian pertama malam itu adalah Tari Swo Ma Eka, yaitu Tari Perang Suku Boti yang memberikan semangat kepada pemuda Boti yang akan maju berperang. Tarian diawali dengan teriakan oleh salah seorang pemuda yang berlari ketengah lapangan dengan pedang ditangannya serta kaki yang dibalut dengan hiasan bulu ekor kuda. Hentakan kaki serta gerakan dinamis dipadukan dengan bunyi Gendang dan Gamelan yang ditabuh. Kemudian masuk ke arena lapangan Gadis-Gadis Boti sambil memberi hormat terlebih dahulu pada kami dan memberikan kami Tais yang dikalungkan sebagai simbol kami dipersilahkan untuk menonton pertunjukan mereka malam itu.

Beberapa penari baik Orang tua dan anak-anak ikut menari dengan menyamakan gerakan mereka seiring dengan pukulan Gendang dan gamelan. Para penari perempuan dengan ciri khas gerakan yang memainkan Tais yang mereka kenakan, sedangkan para penari pria dengan kain destar di kepala mereka memainkan pedang dan sarungnya sambil ikut melompat serta meneriakan yel-yel pemberi semangat.

Tari Burung Nuri

Setelah hampir 30 menit atraksi tarian, Gong, Gendang dan Gamelan berhenti ditabuh, itu tandanya tarian pertama malam itu selesai. Selanjutnya Papa Raja menunjukan atraksinya malam itu dengan memainkan gambus Boti sambil mengiringi Ibu-Ibu menyanyikan lagu mengiringi tari kedua yaitu Tari Kol Kita atau tarian Burung Nuri. Gerakan tarian Kol Kita mirip dengan tarian yang pertama, hanya yang membedakan pada tari ini dinyanyikan syair-syair berupa pesan-pesan agar kita mencintai alam sebagai pesan bagi masyarakat Boti khususnya dan kita yang mendengarkan umumnya.

Menariknya dari persembahan tarian dan atraksi malam itu adalah hampir semua masyarakat yang hadir dapat menari baik tua maupun muda selama mereka mengunakan tais atau pedang untuk mengiringi tarian serta gerakan yang mereka lakukan.

Pukul 23.00 semua persembahan atraksi kesenian oleh Suku Boti berakhir, dan kami pamit untuk istrahat malam itu.

Pukul 07.00 pagi kami telah bersiap untuk pamit kepada Raja dan masyarakat Suku Boti, karena hari itu kami akan meneruskan perjalanan kami selanjutnya. Seperti biasa prosesi adat untuk pamitan telah dipersiapkan oleh pemandu lokal kami. Rumah Raja pagi itu sudah dipenuhi oleh beberapa masyarakat dan mereka mempersilahkan kami untuk menikmati sajian teh pagi itu.

Dikalungkan Tais sebagai penghormatan

Foto dengan Raja dan masyarakat Boti

Seperti biasa pemandu lokal menyampaikan pantun dalam bahasa lokal yang berisi ucapan terimakasih. Suasana haru nampak dalam kata-kata yang diucapkan, dan kami melihat pemandu kami sempat menitikan airmata saat membacakan pantun pamitan kepada Raja. Kami yang hadir disitu nampak terbawa dengan suasana, beragam pengalaman yang kami alami selama dua hari diperkampungan ini begitu membekas, apalagi penyambutan mereka kepada kami sangat baik. Hal ini yang membuat kami juga merasakan kesedihan saat perpisahan ini. Setelah prosesi pamitan, kami dihampiri oleh putri Boti dan dikalungkan Tais (kain tenun) sebagai ucapan terimakasih dan menurut informasi hal ini pertanda kami diterima keberadaan selama berada 2 hari dengan mereka.

Pengalaman hidup dengan mereka benar-benar berkesan. Suku Boti yang dikenal juga dengan Atoni Pah Meto atau Orang yang suka bekerja di tanah kering ini adalah berladang dan beternak. Suku Boti yang tetap menjunjung tinggi adat istiadat serta petuah leluhur mereka ini selalu terbuka untuk menerima siapa saja yang datang berkunjung.

Selamat Jalan

Terimakasih atas keramahan yang telah dibagi, Suku Boti, benteng akhir budaya di Pulau Timor. Dan kami pun meninggalkan perkampungan suku Boti yang penuh dengan keramahan dan kesederhanaan, sambil menyaksikan lambaian serta senyum khas mereka dan tulisan yang terpampang di pintu keluar ‘Koenom amfain ahoit teu Hot Sonaf’ artinya Selamat Jalan menuju tempat tinggal anda. Selamat.

Advertisements

6 Comments (+add yours?)

  1. Rosyid A Azhar
    Jan 13, 2011 @ 23:52:35

    Gagadaa uti………

    Reply

  2. zano
    Jan 14, 2011 @ 10:41:38

    pasti mau dijodohkan ma gadis botti tuh hhehe kpn bisa k ntt ya , ngareppp

    Reply

  3. zuLiG
    Feb 07, 2011 @ 12:30:00

    keren nih jalan2 terus 😀 wah asik nih mereka masih ramah2 yah gk kayak di kota wuh menggemaskan orangnya nafsi2 heeheee..

    Reply

  4. rita
    Aug 19, 2011 @ 07:55:34

    halo, salam kenal.
    boleh minta nomor contact pak messakh toy?
    saya ada rencana ke sana bulan september.
    makasih : )

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog Archives

Just Click this


Yuk.Ngeblog.web.id
%d bloggers like this: