Suku Boti:Keramahan dalam Kesederhanaan

ini adalah salah satu tulisan perjalanan ACIDetikCom saya beberapa waktu lalu di Perkampungan Suku Boti di Pulau Timor

Suku Boti adalah suku asli Pulau Timor yang masih mempertahankan adat istiadat mereka. Perkampungan suku Boti terletak di Dea Boti, Kecamatan KiE, Kabupaten Timor Tengah Selatan sekitar 50 KM arah selatan Kota Soe, Nusa Tenggara Timur

Kami diterima secara adat oleh Raja Boti

dengan Masyarakat Suku Boti

Dengan menempuh perjalanan 2,5 jam kearah selatan dari Kota Soe, kami menjumpai perkampungan Suku Soe, suku yang berada di Pulau Timor ini masih mempertahankan tradisi serta adat istiadatnya.

Keramahan dari Suku ini telah nampak pada saat mobil yang membawa kami memasuki pintu perkampungan suku Boti, nampak seorang lelaki remaja Suku Boti berlari tepat disamping mobil kami sambil berbicara kearah kami dengan senyum seolah menyambut kami untuk datang ke tempatnya. Begitu kami tiba, seketika datang 4 orang pemuda yang langsung menyapa kami dan kami membalas sapaan mereka dengan berjabat tangan dan mengucapkan ‘Salam’. Senyum khas mereka menyambut kami sore menjelang senja kala kami tiba dan segera mereka membantu kami membawa barang-barang bawaan kami.

Selanjutnya perjalanan kami lanjutkan menuju rumah Raja untuk melaporkan kedatangan kami. Kami menuruni tangga karena Rumah Raja berada dibawah dan karena hari sudah menjelang senja, kami tidak dapat jelas memperhatikan kiri dan kanan jalan, namun sekilas kami bisa menyaksikan kebersihan dari pekampungan Suku Boti dari tertata rapinya jalanan menuju Rumah Raja. Tiba di Rumah Raja kami harus menunggu beberapa saat sebelum Raja keluar, dan kami menunggu di teras rumah bersama beberapa pemuda yang mengantarkan kami tadi serta pemandu lokal kami.

Setelah Raja datang, seketika kami duduk mendampingi pemandu lokal. Saat itu pemandu lokal langsung bersalaman dengan Raja Suku Boti yang bernama Namah Benu atau biasa di panggil dengan panggilan kehormatan Lunu Tuan. Prosesi penerimaan kami diawali dengan pemberian sirih, pinang, kapur dan tembakau serta uang secara simbolis yang ditempatkan didalam tempat sirih atau okok mama, sambil menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan kami serta lamanya.

Jamuan Selamat Datang bagi Kami

Gadis Suku Boti

Tempat sirih yang berisi pinang dua buah serta sirih dua buah ini kami letakkan di meja tepat di depan Raja Namah Benu, setelah terjadi pembicaraan maka Raja segera membalas ucapan dari pemandu lokal kami dan mengambil sirih, pinang serta uang yang berada di dalam tempat sirih didepannya. Hal ini menandakan bahawa kedatangan kami diterima oleh Raja dan masyarakat Suku Boti. Setelah itu kami bersalaman dengan Raja dan beberapa masyarakat yang ada di rumah Raja.

Selanjutkan kami diundang untuk menikmati hidangan selamat datang berupa minum teh dan mencicipi pisang goreng yang telah disediakan. Setelah penyambutan, kami menuju Homestay kami yang berada sekitar 150 meter dari Rumah Raja.

Selanjutnya kami akan diundang untuk makan malam, tepat pukul 20.00 seorang Haef atau utusan mendatangi kediaman kami untuk mengundang kami makan malam di Rumah Raja. Keunikan yang kami jumpai adalah alat makan yaitu, piring, gelas dan sendok semuanya terbuat dari tempurung kelapa. Hal ini menambah sensasi tersendiri saat kami menikmati hidangan santap malam yang telah disediakan. Dan sebagai penghormatan bagi tamu, Raja dan orag-orang yang ada ditempat itu mempersilahkan kami makan terlebih dahulu sedangkan mereka akan makan setelah kami makan.

Makan Malam kami dari mereka

 

Wadah makan kami

Kesederhanaan serta penghormatan yang nampak saat kami makan, remaja putri yang melayani kami makan duduk bersila dibawah meja makan, hal ini sebagai penanda bahwa mereka menghormati tamu yang sedang makan.

Tempat menginap kami di Perkampungan Suku Boti

Kamar saya (Sederhana dan I Love it)

Setelah menikmati makan malam, kami lanjutkan berbincang-bincang dengan Raja serta beberapa masyarakat yang berada di Rumah Raja. Tepat pukul 21.00, kami pamit untuk beristirahat dan kembali ke Homestay kami. Kesederhaan serta keramahan dari penyambutan Raja serta masyarakat Suku Boti membuat kami bahagia bisa diterima berada di perkampungan mereka.

Advertisements

2 Comments (+add yours?)

  1. sazano
    Dec 21, 2010 @ 01:19:30

    Wow, desa yang menyenangkan , apa rasanya makan dan minum dari mangkuk kelapa yang sudah dikeringkan itu ya?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog Archives

Just Click this


Yuk.Ngeblog.web.id
%d bloggers like this: