Mengalah Saja

pernah gak terpikirkan dalam diri kita untuk sedikit mengalah untuk kebaikan banyak orang? pernah gak terpikirkan dalam diri kita untuk bersabar sejenak untuk kebahagiaan bersama? saya ingin share pengalaman perjalan saya pagi tadi dengan LION dari Jakarta Gorontalo transit Makassar. *cekidot*

Malam itu habis nonton pertandingan semifinal Indonesia Philipina, saya gak langsung tidur, karena berjaga untuk tidak bablas ketiduran. Maklum rencana untuk ke Bandara yang awalnya akan ditempuh dengan DAMRI dari Bogor berubah dengan Travel Cipaganti. Hal ini karena kehawatiran bakal terlambat Check in kalau saya menggunakan Damri.

Jadwal ke Bandara dari Cipaganti adalah jam 02.00 menuju bandara. Jam 01.00 supir Cipanganti menelpon untuk menginformasikan dia sudah otw menjemput. Setelah menunggu 1/2 jam, akhirnya jemputan tiba juga. Mata ini sudah tidak sabar lagi untuk segera duduk dan beristrahat dalam perjalanan ke Bandara Soeta. Perjalanan katanya akan ditempuh maksimal 2 jam. Kalau dilihat dari waktu yang ada (berangkat jam 02.00) berarti saya akan tiba di bandara jam 04.00. Oke cukuplah untuk bisa Check in dan tidak terlambat.

Benar dugaan saya, begitu badan ini duduk di travel, saya sudah tidak menyadari keadaan sekitar alias saya langsung tertidur pulas dan saya tiba-tiba dibangunkan saat tiba di bandara. Wah ternyata perjalanan hanya membutuhkan waktu 1.15 menit saja Bogor Bandara. Tiba di Bandara sekitar pukul 03.15, suasana lenggang masih nampak. Pintu masuk ruang check in saja masih tertutup. Saya menarik nafas lega karena saya tidak terlambat, malahan bisa datang sangat awal.

Tepat pukul 03.00 pintu check in di buka, dan segera kita bergegas untuk masuk dan check in. Hari itu saya berharap dengan awalnya datang untuk check in, saya bisa menempati tempat duduk paling depan. Ternyata dugaan saya meleset, karena seat dari nomer 1 sampai 9 telah di bloking oleh rombongan dan saya mendapatkan seat nomer 10A, seat favorit saya dekat jendela. Hari itu juga saya check in tanpa bagasi karena barang yang saya bawa dapat saya bawa tanpa dimasukan bagasi. Setelah itu saya bergegas masuk ke ruang tunggu, namun karena masih pagi, loket airport tax belum ada petugasnya. Kami menunggu sekitar 5 menit untuk menantikan petugas. Setelah itu kami menuju ruang tunggu di A5.

Tepat pukul 05.30 kami dipersilahkan masuk ke pesawat lewat Garbarata. Saya kembali bergegas untuk masuk dan menempati seat saya di 10A. Barisan penumpang yang masuk makin banyak dan nampaknya pesawat dengan 246 seat terisi penuh. Beberapa insiden terjadi didepan saya. Ada Bapak-bapak yang merasa seatnya telah diduduki oleh penumpang lain, dengan nada emosi dia membentak-bentak penumpang dan pramugari. Setelah dicek, ternyata dia salah naik pesawat. (aduh malunya di… 🙂 )

Ada juga penumpang yang hanya berdiri lama tapi dengan ekspresi yang menahan amarah, ternyata kesalahan dalam penentuan seat terjadi, dan apesnya Bapak itu sudah sering mengalami hal itu. Dengan sopan petugas mempersilahkan Bapak itu menempati Seat yang masih kosong di barisan kedua.

Kejadian lagi yang terjadi adalah, penumpang yang ada diseat depan saya yaitu 9 A, B dan C mengalami masalah. Penumpang yang ada di Seat 9A ternyata awalnya dia Seat 1A, namun entah kenapa, Seatnya telah diduduki oleh orang lain, dan dengan santai dia menempati Seat 9A dan saat yang punya Seat 9A ingin menempati tempatnya, Bapak tadi tidak bersedia. Masalah terjadi disini, setelah penumpang yang mempunyai Boarding Seat 9A dan B itu adalah Pasangan suami istri.

Dengan sopan pramugari meminta salah satu mengalah untuk bersedia pindah ke Seat yang berada di belakang yaitu di 36E. Ternyata Sang suami tidak bersedia untuk pindah dan dengan tenag dia mengatakan ke Pramugari

“Mbak, saya dan istri saya tidak dapat dipisahkan”, aneh kedengarannya (menurut saya). Kemudian pramugari mencoba menawarkan kepada penumpang yang ada di Seat 9C, namun jawaban dari penumpang di 9C ternyata sama saja dengan jawaban “Mbak, saya tidak biasa duduk di barisan paling belakang”. Aneh kan?

Lama kita menungu kejadian itu, dan saya yang sudah ingin cepat-cepat tidur dan tidak mau ‘diganggu’ dengan kejadian ini mencoba berfikir kalo bagaimana kalau saya saja yang pindah dan mengalah untuk memberikan tempat saya kepada Bapak ‘yang gak biasa duduk dibagian belakang’?

Akhirnya saya mengijinkan Bapak itu untuk duduk di Seat saya dan saya pindah ke bagian belakang. Tidak lama setelah itu akhirnya pesawat yang menunggu hampir 20 menit untuk take off, akhirnya berangkat juga dan saya sudah ‘mecoba’ menikmati seat yang berada di nomer 36E yang jauh dari perkiraan saya sebelumnya.

Datang check in diawal tapi akhirnya dapat tempat duduknya dibagian paling belakang. Kali ini saya berfikir bahwa banyak penumpang lain yang ingin segera berangkat atau saya sendiri yang ingin segera ‘beristrahat’ dan tidak mau berlama-lama lagi. Seat yang ada didepan dan dibelakang sebenarnya bukan masalah yang sangat utama, karena depan atau belakang kita toh tibanya sama juga. Ya kan?

 

Advertisements

2 Comments (+add yours?)

  1. sazano
    Dec 20, 2010 @ 23:43:18

    Hehehe, siapa tahu setelah menikah saya juga akan bilang ma pramugari, “Damn! its my honey moon, only God can separate us! Go Away!”

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog Archives

Just Click this


Yuk.Ngeblog.web.id
%d bloggers like this: